Inovasi dan Kolaborasi , Solusi dalam Bisnis di Masa Pandemi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

Pandemi COVID-a9 yang berlangsung memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global. Lalu bagaimana caranya agar kita tetap dapat bertahan di era Low Touch Economy ini?

Masa pandemi ini merupakan masa yang sulit bagi perekonomian global maupun negara kita, Indonesia. Pandemi ini turut berimbas pada sektor usaha, baik perusahaan besar hingga UMKM. Dr. Aviliani selaku Ekonom Senior INDEF menjelaskan bahwa sebelum pandemi terjadi, ekonomi global telah mengalami penurunan, hal ini disebabkan banyak faktor, salah satunya demografi.

Menurut Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2015, Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 berjumlah 266,91 juta jiwa dengan komposisi penduduk kelompok umur 15-64 tahun (usia produktif) adalah terbesar sebanyak 183,36 juta jiwa atau sebesar 68,7%. Sedangkan penduduk dengan kelompok umur 0-14 tahun mencapai 66,17 juta jiwa atau sebesar 24,8% dari total populasi dan kelompok umur lebih dari 65 tahun (usia sudah tidak produktif) berjumlah 17,37 juta jiwa atau sebesar 6,51% dari total populasi.

Dr. Aviliani mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang bagus dikarenakan hampir 70% jumlah populasinya adalah usia produktif yang menjadikan Indonesia sebagai incaran para investor. Ia menjelaskan bahwa kini para investor menarik diri dari negara-negara maju dikarenakan jumlah populasi di negara maju didominasi oleh usia non-produktif (lebih dari 65 tahun) yang menyebabkan tingkat konsumsinya rendah. Berbeda dengan Indonesia yang merupakan negara berkembang, dimana tingkat konsumsinya tinggi.

Penurunan ekonomi saat masa pandemi ini ditengarai karena pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan Lock down di sejumlah negara. Aktivitas masyarakat di luar ruangan dibatasi sehingga tidak ada aktivitas ekonomi. Seperti halnya teori ekonomi, jika permintaan naik maka penawaran pun ikut naik. Namun, saat pemberlakuan PSBB ini tingkat konsumsi masyarakat menurun sehingga terjadi stagnansi.

Faktor lain yang menjadikan penurunan ekonomi di Indonesia selama pandemi adalah dampak yang langsung dirasakan oleh UMKM. UMKM di Indonesia menyerap 97% angkatan kerja dan UMKM merupakan sektor yang terpuruk selama pandemi ini. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi selama PSBB menurun dari 5% ke 2,97%.

Menurut Dr. Aviliani, Indonesia termasuk salah satu negara yang ekonominya masuk dalam kategori “danger” karena kemungkinan akan terdampak dari second wave dari pandemi ini. Menurutnya, second wave akan lebih berbahaya karena ekonomi akan lebih jatuh, maka dari itu perlu terus dijaga kestabilan ekonomi pada saat ini. Dr. Aviliani menghimbau bahwa kita harus tetap menjalankan protokol kesehatan agar ancaman second wave tidak terlalu mengakibatkan dampak yang signifikan pada perekonomian Indonesia.

“New normal bukan berarti segalanya sudah kembali normal dan income kita akan kembali seperti dulu. Ini yang perlu disadari para pengusaha untuk melihat market yang ada” tutur Dr. Aviliani.

Pola perilaku masyarakat saat PSBB ini mengalami perubahan, transaksi online akan semakin diminati sedangkan transaksi offline akan semakin menurun ketika terjadi recovery  atau post-covid.Hal ini dikarenakan masyarakat sudah bisa memilih dan memilah mana aktivitas yang dapat dilakukan secara online maupun offline.

Menurutnya, di dalam kondisi pandemi ini ada banyak peluang, tergantung bagaimana kita dapat melihat peluang itu dalam meningkatkan usaha kita. Inovasi dan kolaborasi dalam menciptakan ekosistem baru juga bisa menjadi salah satu opsi dalam mempertahankan bisnis di masa pandemi. Inovasi-inovasi baru seperti melakukan diversifikasi produk usaha bisa mendatangkan keuntungan. Kolaborasi dengan menciptakan ekosistem seperti “one stop shopping”  dengan bekerja sama dengan berbagai merchant juga dapat dilakukan karena pada situasi ini, masyarakat cenderung mengutamakan segi kepraktisan. Sebagai pengusaha, kita juga dapat memaksimalkan kolaborasi dengan figur yang berkompeten dan memiliki kredibilitas pada sektor usaha yang kita miliki.

 Jika tingkat konsumsi meningkat maka pertumbuhan ekonomi pun meningkat, karena 57% dari pertumbuhan ekonomi dikontribusikan oleh konsumsi.  Sebagai konsumen, kita juga harus lebih mencintai produk dalam negeri untuk meningkatkan pendapatan UMKM agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil.

“Sebagai pengusaha, kita harus bisa melihat bahwa ancaman sebagai peluang,” tutup Dr. Aviliani

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay