Kesetaraan Gender di Konservasi Lingkungan Hidup

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

Konservasi tidak melulu soal Orangutan, Harimau, Gajah dan Pohon yang terancam punah. Dibalik itu, peranan perempuan sangat dibutuhkan untuk upaya konservasi. Apa sajakah yang dapat kita lakukan? Baca Selengkapnya!

Kesetaraan Gender di Konservasi Lingkungan Hidup

                Ketika kita mendengar kata konservasi pasti yang terbesit di pikiran adalah pekerjaan yang macho. Yang mana hanya melibatkan laki laki, karna pengetahuan tentang konservasi masih sangat sedikit. Orang yang awam mungkin hanya memandang bahwa konservasi lingkungan hidup itu semua yang di lapangan. Padahal tidak melulu tentang Gajah, Harimau, Orang utan, Pohon yang terancam punah, tapi dibalik itu banyak posisi pekerjaan di konservasi yang harus melibatkan perempuan. Bersama dengan Ibu Diah Diredja dan salah satu host eureka women yaitu Myrna Soeryo akan membahas peranan perempuan di lingkup kerja konservasi lingkungan hidup. Ibu Diah Diredja adalah senior advisory dari Yayasan Kehati dibagian Sustainability and Climate Change. Beliau adalah salah satu perempuan yang bekerja dibidang ini. Passionnya yang kuat mendorong beliau untuk bekerja disini dengan banyak halangan dalam konstruksi sosial.

                Peran penting perempuan dibidang konservasi ini, harus dilihat kembali dari bagaimana kita memandang kepada pekerjaan di konservasi lingkungan hidup. Karena seperti yang sudah disebutkan di atas, konservasi tidak hanya membicarakan tentang hewan dan dunia macho. Kalo kita bicara tentang konservasi atau kehidupan itu butuh kedetailan pengerjaan perempuan, yang dikolaborasikan dengan emosi dan sentuhan kelembutannya banyaka bagian dari pekerjaan ini yang mengharuskan pelibatan perempuan. Dilihat dari perkembangan sekarang perempuan dapat terlibat jauh dalam “pekerjaan macho” ini. Diperlukan sentuhan detail yang melihat dari sisi feminist dalam menangani soal konservasi. Penganalisisan tentang bagaimana penanganannya jika banyak spesies terganggu, ternyata yang mampu mencari dan menemukan solusinya adalah perempuan. Hal ini dilakukan oleh banyak ahli perempuan yang terlibat.

Tahun 2014, 240 ahli atau ilmuan lingkungan berkumpul dan membicarakan topik kesetaraan gender ini, menyatakan bahwa gerakan perempuan dianggap menghambat kelancaran konservasi. Hal ini menyebabkan argumen yang sangat kuat dan menyebabkan kelut dan perpecahan. Tetapi saat membicarakan upaya perlindungan dan mempertahankan keberagaman serta nilai-nilai biodiversity, ternyata yang lebih dekat dengan kelompok masyarakat adalah ilmuan-ilmuan perempuan. Maka dari itu memang sangat penting melibatkan perempuan dalam konservasi lingkungan hidup. Setelah 30 tahun, kita baru sadar bahwa ternyata 41% staff konservasi di Amerika adalah perempuan, akhirnya hal itu yang mendorong kesetaran gender yang baik di indonesia. Memporsikan dengan adil dan jalan berdampingan dan mengikat atau saling butuh satu sama lain.

Tahun 2001, Ibu Diah Suradiredja serta pekerja konservasi lain membuat kegiatan penyibukan ibu ibu di daerah sekitar taman konservasi yang marak ilegal loging. Dibuatkan kelompok ibu ibu yang di berdayakan untuk membuat dodol nanas, yang mana membuat para lelaki memiliki kegiatan yaitu membantu mereka. Banyak pohon yang terselamatkan, dan itu dihitung oleh para perempuan. Misalnya dengan kesibukan membantu para perempuan di desa hutan tersebut, selama seminggu bisa menebang atau melakukan kegiatan ilegal loging lain setiap hari 2 pohon untuk beberapa kayu. Nahh bisa terhitung, hal ini bisa menyelamatkan berapa pohon.

Bisa disimpulkan, bahwa peran perempuan di lemabaga konservasi adalah sebagai pemeta setiap kejadian di lapangan, apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana penanggulangannya. Saat pelatihan pun perempuan yang sebelum disahkan jadwal sendiri untuk perempuan, mereka mendengarkan, menyimak dan juga membahasnya di dapur bersama perempuan lainnya. Baru setelah disahkan pelatihan untuk prempuan mereka mengaplikasikannya dengan baik, karna perempuan dikodratkan menjadi multitasking, pendengar yang baik, mempunyai sifat mother nature, dan juga menyimak dengan baik, membuat penganalisisan berjaln dengan baik. Sederhananya kita bisa lihat dari bagaimana tuhan menciptakan rahim pada permpuan yang berarti perempuan lebih kuat dari pada laki laki.

Namun, disamping itu perempuan memiliki 4 keterbatasan yang masih selalu diupayakan oleh lembaga konservasi dan taman nasional. 4 hal ini seperti labirin-labirin penghambat yang harus dilalui oleh para pegiat konsevari perempuan dengan dibantu oleh lembaga konservasi. ini harus di rubah agar perempuan bisa lebih maju.

Berikut 4 keterbatasan yang msih diupayakan yaitu :

  1. Kompetensi, yang mana biasanya setiap melakukan pelatihan pasti ada saja yang menghalangi kelancaran berjalannya pelatihan. Yang sedang diupayakan para pegiat konservasi ini adalah bagaimana caranya melakukan atau membuat pelatihan , tidak hanya di kalangan perempuan desa hutan juga di kota tanpa merusak tatanan kostruksi sosialnya.
  2. Speak up, masih banyak sekali hambatan dalam menyuarakan pendapatnya, selain pendapat juga hasil pengembangan kompetensi itu sendiri.
  3. Promosi, tidak hanya di bidang konservasi namun di tempat kerja lain juga sering terjadipilih kasih terhadap perempuan kita ingin naik jabatan.
  4. Pelecehan seksual, hal ini yang menjdi momok besar ketakutan.

Sekarang lebih bersyukur karna lebih banyak cewek di bidang konservasi. Perkembangan sekarang lembaga-lembaga konservasi dan taman nasional sudah mengakomodasi perempuan. Contohnya sudah dibuatkan mess khusus untuk perempuan yang harus dekat dengan kamar mandi dan perlekapan lainnya sudah dipermudah. Sekarang banyak perempuan yang sudah punya kiprah yang luas, namun kalo sudah masuk struktural masih sedikit. PR kita adalah tentang Leadership, harus pelan-pelan karna harus dengan praktik pembelajarannya tak bisa dengan teori.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay