Membesarkan Generasi Alfa: Berkompromi dengan Generasi Digital

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

So, are you ready to welcoming 5.0 generations?

Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya untuk memiliki 2 anak yang terlahir sebagai generasi Alfa (kelahiran 2010 s/d sekarang) dan 1 anak dari generasi Z, saya harus berkompromi besar dengan dunia digital. Ya, tentunya anak-anak saya sudah terlahir ketika mbah Google, peta digital Waze dan si “pembantu” digital pribadi Go-jek, sudah lahir dan membantu kehidupan kita sehari-hari.

Dunia digital itu ibarat sebuah gunting, menurut saya. Kenapa? Karena kita memang butuh gunting dalam kehidupan sehari-hari, makanya kita nggak perlu takut dengan gunting. Jangan sampai kita nggak pernah pakai gunting cuma karena takut anak kita terkena luka oleh gunting. Nah, beitu pula dengan dunia digital menurut saya. Sebagai orang tua, kita mau nggak mau harus mengerti mengenai dunia digital, mulai dari berbagai macam aplikasi telepon genggam yang dapat membantu tumbuh kembang anak sampai dengan beragam hadirnya media sosial, seperti Tik Tok, Instagram, Bigo, dll.

Mengapa? Karena layaknya seperti sebuah gunting, kita harus tahu kapan saat-saat kita memerlukan bantuan gunting dan tidak. Kalau ternyata hanya selembar kertas yang bisa dengan mudah disobek, mengapa kita memerlukan gunting untuk mengerjakannya? Begitu halnya sama dengan segala piranti dunia digital dan ekosistemnya. Kita, sebagai orang tua, harus benar-benar paham, kapan harus memakai bantuan dunia digital untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak kita, dan kapan harus mencegah maupun menghentikannya.

Salah penggunaan platform digital, malah justru bisa mengganggu pertumbuhan anak kita dan mereka juga jadi malas melakukan kegiatan-kegiatan fisik seperti berolahraga dan bermain di luar ruangan, yang justru membantu mengasah sensor motorik mereka.

Generasi Alfa adalah generasi yang punya akses sangat luas terhadap segala jenis informasi, baik yang baik, buruk, maupun yang bohong. Tetapi generasi ini juga memerlukan banyak bimbingan dan kasih sayang, dalam menghadapai chaos-nya  dunia informasi. Mereka perlu dipercaya untuk setiap tindakannya, tetapi bukan dikontrol oleh orang tua mereka seperti boneka. Mereka perlu diberi contoh sesuai perkembangan zaman, bukan digurui, apalagi dihakimi. Jangan pernah membandingkan mereka dengan perilaku dan tindakan kita saat seusia mereka dulu. Tantangan yang dihadapi oleh generasi Alfa lebih kompleks daripada saat kita seusia mereka. Generasi ini sudah menghadapi cyber bullying, hacking, cyber security, dan lain-lain. Sedangkan kita dulu saat seusia mereka, mungkin malah lagi sibuk main game watch kung fu dan nonton serial Voltus di video Betamax.

Saya dan pasangan sendiri bercita-cita menjadi orang tua authoritative parent yang dapat menerapkan batasan dan disiplin pada anak melalui contoh-contoh sikap dan nasehat, jadi bukan dengan menakut-nakuti; juga dapat berkomunikasi 2 arah serta menunjukkan rasa kasih sayang kepada anak.

Terntunya tipe pola asuh ini berbeda dengan saat kita dididik dulu yang cenderung dengan pola asuh authoritarian parent (kaku, tidak fleksibel, memberikan hukuman, banyak pengharapan yang harus dicapai sang anak) atau uninvolved parent (tidak dekat secara emosional, menjaga jarak antara orang tua dan anak, jarang ada interaksi dengan anak).

Perbedaan pola asuh terhadap saya dan pasangan saat kami kecil versus pola asuh yang berusaha kami terapkan pada anak-anak kami, tentunya sangat berbeda. Hal itulah yang membuat kami terus menerus belajar untuk menjadi orang tua yang baik, salah satunya dengan mengikuti komunitas @keluargarangkul.

Kami percaya bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan rasa kasih sayang dan bonding yang baik dengan keluarga, akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang pernuh percaya diri.

Pribadi-pribadi yang melakukan hal-hal baik bukan karena mereka terpaksa, tetapi karena mereka butuh melakukan hal-hal baik tersebut dan percaya akan nilai-nilai kebaikannya.

So, are you ready to welcoming 5.0 generations?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay