Membuka Lembaran Hidup Baru dengan Mengenali dan Menerima Emosi Negatif

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

Kamu punya kebiasaan untuk menutupi emosi-emosi negatif yang sedang kamu rasakan? Pantang bagi kamu untuk meneteskan air mata di depan orang lain? Ternyata menjadi sok kuat itu, tidak sehat lho! Baca artikel di bawah ini.

Merasa marah dan sedih karena pasangan ketahuan selingkuh? Lalu apa yang harus kita lakukan agar perasaan marah dan sedih yang kita rasakan bisa pergi? Membalas dendam terhadap pasangan atau berusaha menyakiti balik perasaan pasangan seperti yang dilakukan Andie di film How to Lose a Guy in 10 Days, tidur seharian dan mengunci diri di dalam kamar seperti Carrie Bradshaw di dalam film Sex and The City atau makan coklat, menangisi diri dan menonton film romansa yang bikin badai air mata seperti Elle Wood di film Legally Blonde?

Menurut Joy Pauline, praktisi pengembangan sumber daya manusia dan penggagas Alchemy, hal pertama yang harus dilakukan ketika kita merasakan emosi negatif adalah mengenali emosi tersebut dan menerimanya. “Kita harus menerima perasaan sedih, marah, kecewa kita, agar emosi negatif kita bisa tersembuhkan,” ujar Joy.

“Menahan emosi negatif tersebut dengan berpura-pura tidak merasakan emosi-emosi negatif tersebut, justru memperlambat penyembuhan luka batin kita. Nggak apa-apa kalau dalam waktu tertentu yang kita tentukan, misalnya seminggu, kita mau mendengarkan lagu-lagu yang bikin baper terus menerus atau justru sebaliknya selama waktu tertentu kita terus menerus mendengarkan lagu cadas, karena menganggap lagu-lagu aliran tersebut bisa mewakili emosi negatif yang kita rasakan,” tambah Joy lagi.

Tentu lamanya waktu untuk menjadi baper alias mengenali dan menerima emosi negatif kita, berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang membutuhkan waktu sebulan, ada yang membutuhkan waktu hanya seminggu, sehari bahkan ada yang memakan waktu bertahun-tahun untuk menerima dan merasakan emosi negatif tersebut. Jadi tidak ada patokan mutlak di sini. Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk meluapkan emosi negatifnya.

Setelah mengenali emosi negatif tersebut serta menerimanya, maka logika kita akan kembali berjalan seperti semula, nggak baperan lagi. Nah, pada saat itu, adalah saat yang tepat buat kita berbagi emosi negatif kita terhadap orang yang kita percaya, baik sahabat ataupun anggota keluarga.

Mengapa harus menunggu beberapa saat dahulu, sebelum kita mulai curhat ke orang terdekat kita?

Hal ini dilakukan, agar bila teman kita curhat memberikan masukan atau saran untuk mengatasi emosi negatif kita, perasaan kita sudah netral dan tidak terburu-buru menuruti saran tersebut, karena logika kita sudah berjalan. Kita tidak menjadi gegabah menuruti saran-saran tertentu, yang mungkin malah menambah runyam masalah yang sudah ada, alih-alih menuntaskan masalah.

Orang lain bisa memberikan saran terhadap masalah kita, namun tetap kitalah yang harus memegang kendali atas hidup kita, karena kita kapten di dalam kehidupan kita sendiri.

Life isn’t about finding yourself, life is about creating yourself – George Bernard Shaw.

Jadi jelas, bahwa dengan sok merasa kuat, tidak meneteskan air mata saat kita merasa sedih atau kecewa di depan orang lain, justru bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.

Ladies, it’s okay not to be okay, sometime.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay