Memerdekakan Diri dengan Bebas Memilih Antara Berkarya atau Berkeluarga

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

Perempuan memang terlahir untuk mengerjakan beberapa tugas sekaligus karena fungsi otaknya. Namun, mengapa kerap perempuan disudutkan dengan pilihan peran dalam kehidupan?

“Kenapa sih perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan posisi perempuan seolah-olah tak berdaya. Setiap perempuan itu multi peran.”

Kata-kata yang dilontarkan Najwa Shihab sangat menohok dan mendapat reaksi dari sejumlah kalangan. Tak sedikit yang mendukung dan pernyataan yang ia berikan.

Aktivitas domestik sudah sejak lama dilekatkan pada perempuan. Hal tersebut bahkan sudah ada jauh sebelum kebanyakan perempuan lahir. Hal itu kemudian menjadi budaya dan adat istiadat. Perempuan selalu dikonotasikan sebagai manusia pekerja domestik (homemaker) yang dinilai tidak dapat berkontribusi secara aktif di luar rumah sehingga perannya tidak lebih dari sekadar aktivitas dalam rumah. Di kemudian hari, terutama di dunia kerja, banyak posisi strategis yang aksesnya tertutup bagi perempuan. Perempuan dianggap tidak pantas memimpin dalam pekerjaan karena dinilai sebagai makhluk yang terlalu menggunakan perasaan dan sulit mengambil keputusan dengan bijak. Pelekatan pembagian pekerjaan antara perempuan dan laki-laki sudah sejak lama diyakini kebenarannya.

Beberapa tahun terakhir, kiprah perempuan di ranah produktif mulai menunjukkan eksistensinya. Bisa kita lihat bagaimana perempuan dilibatkan secara aktif bekerja di semua lini. Mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik hingga agama. Semua lini telah dapat mengandalkan perempuan sebagai sumber daya manusia yang produktif dan andal. Meski demikian, banyak hal yang masih membelenggu perempuan dalam kiprahnya di ranah produktif. Perempuan masih saja terbelenggu dengan budaya, mitos dan jauh dari kata kompetensi yang sehat di ranah produktif. Banyak anggapan perempuan yang bekerja di ranah produktif akan lebih kesulitan mengambil kebijakan ketimbang laki-laki, sekalipun kompetensinya melampaui laki-laki. Begitu pula dari sisi agama, perempuan pemimpin hingga saat ini masih dianggap tabu dan menyalahi kodrat.

Sebagai perempuan, membuat pilihan merupakan sebuah tantangan. Seringkali pertanyaan seperti Bekerja atau menjadi Ibu Rumah Tangga dilontarkan kepada kita. Seolah-olah memilih salah satunya akan mengorbankan yang lainnya.  Pilihan bekerja akan dianggap sebagai pilihan yang melawan kodrat, sementara pilihan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga akan dianggap mengorbankan bakat dan kemampuan yang dimiliki. Dua pilihan tersebut kerap kali menjadi dilema dan penghakiman tersendiri bagi kaum perempuan.

Apapun yang kita pilih, orang-orang dengan mudahnya menghakimi. Cara pandang dunia atas perempuan yang membuat perempuan lebih banyak berpikir ulang saat mengambil pilihan. Perempuan selalu multiperan dan semuanya hadir dengan berbagai tuntutan. Di era ini, perempuan bekerja dalam berbagai bentuk aktivitas yang bervariasi. Jumlah perempuan yang berkarya di Indonesia sangatlah besar, pergeseran nilai-nilai di masyarakat mengenai perempuan bekerja memang dicatat mengalami kemajuan yang terus meningkat dari dekade sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada tahun 1980 sebesar 32,43%, tahun 1990 sebesar 38,79%, dan pada tahun 2014 TPAK perempuan sudah menjadi 50,22%. Angka ini terus melaju pesat setiap tahunnya dan dinilai sebagai kemajuan pembangunan. Ini menjadi laporan peningkatan kualitas hidup kaum perempuan. Angka ini menjadi faktor penting dalam berbagai hal untuk mencapai tujuan kesejahteraan kaum perempuan pada khususnya dan masyarakat secara luas pada umumnya.

Dukungan dari lingkungan dan kebijakan seringkali tidak sepadan dengan apa yang kita berikan. Ketika seorang perempuan memilih untuk bekerja diluar rumah, maka akan selalu ada faktor-faktor yang dihadapi seperti tradisi, norma, bahkan stereotype. Menurut data, ada 104 negara yang melarang perempuan bekerja di perkerjaan tertentu. Ada 18 negara yang memiliki aturan agar suami mencegah istrinya bekerja da nada 2.7 miliar perempuan yang secara hukum dilarang memiliki pekerjaan yang sama dengan laki-laki.

Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga ataupun Bekerja adalah dua peran yang saling melengkapi. Seorang perempuan yang bekerja, berapa pun waktunya tetap ibu sepenuh waktu. Memang akan banyak tantangan, namun bukan berarti kita tidak dapat merasa bahagia ketika melakukan keduanya.

Perempuan tidak harus memilih, kita bisa mendapatkan keduanya. Kita berhak melakukan keduanya tanpa diliputi kekhawatiran akan celaan. Rasa ragu pasti akan tetap ada dan itu merupakan hal yang wajar. Keputusan seorang perempuan pasti didasari oleh pertimbangan yang lebih kompleks.

Semakin kompleks situasinya, maka akan semakin tidak merdeka situasinya dalam mengambil sikap. Banyak perempuan yang masih terpenjara dan tidak merdeka dalam menentukan sikap.

Tugas perempuan yang diberkahi cukup kemerdekaan adalah mendorong perempuan lain untuk menunjukkan sikap. Kita adalah pekerja keras dimanapun kita berada.

Menjadi Ibu Rumah Tangga ataupun Berkarir, kita adalah perempan hebat!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay