Mengenal 4 Fase dalam Hubungan Penuh Kekerasan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

Apa yang membuat seseorang tetap bertahan di dalam suatu hubungan yang penuh kekerasan? Yuk, kenali 4 fase ini, sehingga kamu bisa memahami perasaan korban kekerasan dan bahkan menolong mereka.

Mungkin kita pernah mendengar atau membaca kisah beberapa orang perempuan yang sedang berada di dalam suatu pernikahan yang toksik ataupun berpacaran dengan orang yang melakukan kekerasan fisik atau mental kepada pasangannya.

Herannya, alih-alih sang korban pergi dan meninggalkan hubungan atau pernikahan yang tidak sehat itu, justru para korban memilih untuk bertahan dalam hubungannya bahkan mungkin, merasa takut ditinggalkan oleh pasangannya yang abusive tersebut. Tentunya, hal ini membuat kita gemas.

Menurut Psikolog Angesty Putri Ageng, pasangan yang  bertahan dalam hubungan seperti ini terjebak di dalam sebuah siklus kekerasan yang kerap kali berulang.

Siklus kekerasan adalah sebuah siklus yang bisa digambarkan bagaikan roda yang terus berputar, terdiri dari empat fase, pertama ada di periode bulan madu yang memberikan hubungan manis dan penuh kebahagiaan, kedua akan  dilanjutkan dengan munculnya konflik-konflik kecil , ketiga mulai muncul ketegangan jika fase kedua tak diselesaikan dan bisa berujung pada ledakan emosi dan kekerasan, fase keempat konflik mulai mereda dengan saling memaafkan.

Kejadian itu pun terus berulang seiring waktu, dan membuat para pasangan yang terjebak di dalamnya menjadikan hal itu terasa wajar, karena memang namanya hubungan tak akan lepas dari yang namanya pertengkaran.

“ Seiring berjalannya waktu, siklus ini akan makin cepat dan makin dalam intensitasnya bisa jadi bukan  hitungan  bulan lagi terjadinya namun bisa dalam hitungan minggu bahkan hari,” jelas Angesty.

Ia menambahkan, dengan intensitas yang makin dalam dan makin sering, sangat memungkinkan  jika pasangan tak akan melalui siklus itu secara berurutan lagi. Bisa saja, dari fase bulan madu langsung ke fase ledakan emosi yang memicu kekerasan. Pasangan yang masih bertahan dalam hubungan buruk ini pun masih dilingkupi dengan alasan-alasan lain yang membuatnya sulit untuk melepaskan orang yang dicinta meski penderitaan yang seringkali didapat.

“ Bagi orang-orang yang mengalami kekerasan dalam berpacaran dan masih mau bertahan di dalamnya, biasanya mereka tidak mengetahui gaya pacaran yang baik itu seperti  apa, takut pacar marah jika ditinggalkan, dijauhi teman atau keluarga, merasa kurang percaya diri, pernah melakukan hubungan seksual dan takut disebarluaskan,” papar Angesty.

Sedangkan bagi kekerasan dalam rumah tangga, anak seringkali jadi alasan utama karena tak ingin anaknya disakiti, menilai anak sangat butuh sosok orang tua yang lengkap meski salah satunya kerap melakukan tindak kekerasan, keuangan yang terbatas atau tidak memiliki tabungan untuk bisa bertahan hidup setelah memutuskan bercerai, takut menghadapi penilaian negatif dari masyarakat serta takut melanggar ajaran agama dan berdosa.

Alasan-alasan itulah yang seringkali membuat pasangan yang mengalami kekerasan tetap mau bertahan, padahal jika diteruskan efek negatif dari kekerasan bukan hanya akan dirasakan oleh korban langsung. Bisa saja, dampak buruk akan mengenai orang-orang sekitar, terutama anak yang sering menyaksikan adegan pertengkaran orang tuanya

Dengan kita mengerti keempat fase dalam hubungan penuh kekerasan, maka kita jadi bisa mengetahui mental korban seseorang yang mengalami hubungan penuh kekerasan bahkan mungkin bisa membantu mereka serta memberikan dorongan emosional secara positif.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay