Single Mom: Truth or Dare

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

SHARE

Artikel yang terinspirasi dari film Joker ini mengupas karakter ibu Joker a.k.a Penny Fletcher sebagai single mother.

Ada satu kesamaan antara Penny dan saya, kami sama-sama seorang single mom yang memiliki satu anak. Bedanya anak Penny sudah beranjak dewasa, sebelum Arthur menjelma menjadi Joker, sedangkan anak saya masih mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar.

Karena sama-sama bernasib single mom, jujur saya menjadi berempati dengan karakter Penny. Saya tahu rasanya membesarkan seorang anak tanpa seorang suami di sisi, adalah berat. Saya tahu rasanya mengucapkan kebohongan “putih” untuk melindungi perasaan anak kita. Saya tahu rasanya diam-diam dipergunjingkan orang di belakang, karena status keluarga.

Truth:

berkata sejujurnya kepada anak kita mengenai hal yang mungkin menyakitkan hatinya, terutama mengenai status ayah kandungnya yang masih hidup namun tidak berada di sisinya, sangatlah berat. Apalagi bila hubungan kita dengan ayah sang anak tidak berakhir dengan baik-baik dan penuh cerita kelam. Sudah pasti insting kita sebagai seorang ibu akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak kita, termasuk cerita-cerita berbumbu manis, agar sang anak tidak pernah sakit hati atau mengalami kekecewaan yang mendalam atas ayah kandungnya atau asal usulnya yang kurang menyenangkan.

Tetapi apakah berbohong walaupun untuk tujuan yang baik, itu benar?

Dare:

ketika sang anak menemukan kebenaran masa lalunya sendiri tanpa informasi pertama yang didengar dari mulut ibunya, sang anak akan mengalami kekecewaan double, karena merasa tidak ada satupun dari orang tuanya yang dapat dipercaya, baik sang ayah yang memang tidak pernah ada di sampingnya maupun sang ibu, yang justru selama ini dianggap orang yang paling dipercayainya.

Kekecewaan ini bisa berdampak buruk bila sang anak tidak dibekali nilai-nilai moral yang kuat, apalagi bila sudah mengidap penyakit kejiwaan serius seperti halnya Joker. 

Hal yang paling disayangkan, ketika Penny Fletcher mengalami situasi yang kelam ini (pacarnya melakukan tindakan abusive ke Arthur saat kecil, Thomas Wayne yang menghindar untuk bertemu dengan Penny untuk melakukan closure); Penny justru tetap ‘berjalan’ di masa lalu dengan terus menerus berusaha menyurati Thomas Wayne. Penny tidak menghargai dan mencintai dirinya sendiri.

“The difference between a broken community and a thriving one is the presence of women who are valued”

– Michelle Obama, Becoming.

Hal itu yang menjadi perbedaan saya dan Penny. Di mana saya memilih untuk keep pressing on, memaafkan pasangan dan melupakan masa lalu, sedangkan Penny sibuk hidup di alam masa lalunya sendiri.

Mencintai diri sendiri, memang lebih susah buat kita perempuan, dibandingkan mencintai orang lain. Karena kita sebagai perempuan, terutama di budaya Timur, memang diajarkan untuk mencintai orang-orang di luar pribadi kita sendiri dahulu, terutama anak, suami dan orang tua. Kita lupa bahwa bila kita tidak bisa mencintai diri sendiri, maka kita juga tidak akan mampu memberikan cinta kita yang tulus kepada orang-orang terdekat kita.

Tidak mampu mencintai diri kita sendiri sama juga dengan mengabaikan perasaan cinta kita terhadap anak kita. Karena seorang ibu berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya, sehingga anak-anaknya juga bisa mendapatkan yang terbaik dari ibunya termasuk rasa kebahagiaan, keamanan dan kenyamanan. A happy family comes from a happy mom.

So the truth is we have never been able to love others, if we do not start to love ourselves. Dare to love ourselves, dare to love others abundantly. And it all starts with I.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Replay